Tua-tua Keladi Cocok untuk Deskripsikan Ulah Kakek 89 Tahun di Bali Ini

Bandar Poker

Tua-tua Keladi Cocok untuk Deskripsikan Ulah Kakek 89 Tahun di Bali Ini – Pepatah ‘tua-tua keladi, semakin tua semakin jadi’ nampaknya pas untuk menggambarkan tingkah kakek 89 tahun di Bali. Ia diberi hukuman 4 bulan penjara sebab dapat dibuktikan korupsi penyertifikatan serta jual tempat tanah rimba rakyat di lokasi Jimbaran, Bali.

Menggunakan baju warna putih serta celana panjang biru, I Wayan Ubah tampak berjalan dipapah keponakannya, Wayan Yasa, waktu duduk di kursi pesakitan. Seperti biasa, hakim bertanya kesehatan kakek 10 buyut itu.

Ketua majelis hakim Angeliki Handajani dikit berteriak saat menanyakan. Selain itu, Wayan Ubah tampak mengangguk serta menjawab dengan terbata.

Hakim Angeliki lantas mulai membacakan surat putusan. Dalam pertimbangannya, majelis hakim mengatakan Wayan Ubah dapat dibuktikan bersalah sama dengan tuduhan lebih-lebih subsider.

“Mengatakan terdakwa I Wayan Ubah sudah dapat dibuktikan bersalah lakukan tindak pidana korupsi dengan bersama sesuai dengan lebih-lebih subsider. Menjatuhkan pidana pada terdakwa hukuman penjara saat 4 bulan serta pidana denda Rp 50 juta. Jika tidak dibayar, ditukar pidana penjara tiga bulan,” kata hakim Kiki.

Dalam pertimbangan, yang memberatkan ialah tindakan Wayan Ubah dipandang menggelisahkan. Sedang perihal yang memudahkan, yang berkaitan berumur lanjut.

“Perihal yang memberatkan, tindakan terdakwa cukuplah menggelisahkan, sesaat perihal yang memudahkan, terdakwa berusia lanjut. Telah selayaknya tidak melakukan hukuman fisik, rehabilitasi pun tidak dipakai kembali pada terdakwa yang berumur lanjut. Lantas terdakwa kooperatif walau diselingi sakit badan,” urai Kiki.

Majelis hakim juga mengatakan Wayan Ubah untuk langsung ditahan serta dikurangi waktu hukuman. Atas vonis ini pihak Wayan Ubah terima serta tidak ajukan keberatan alias terima vonis hakim.

Ia memberikan pihaknya berupaya membayar denda minggu kedepan supaya client-nya tidak masuk bui. Selain itu, Wayan Ubah sendiri mengakui lega pada akhirnya dapat bebas.

Dibantu Ngurah untuk bicara, Ubah mengakui sudah sempat trauma saat ditahan di Lapas Kerobokan. Diakuinya sakit-sakitan.

Masalah ini berawal saat Wayan Ubah mengaku tempat tahura di lokasi Jimbaran menjadi tanahnya. Tanah itu lantas ia buatkan sertifikat tanah lewat biro layanan serta di jual. Atas tindakannya, negara alami kerugian Rp 4,86 miliar seperti hasil audit BPKP Bali pada 30 November 2016.

Wayan Ubah juga divonis bersalah melanggar Masalah 13 UU Nomer 31 Tahun 1999 mengenai Tipikor seperti sudah dirubah serta ditambah UU Nomer 20 Tahun 2001 juncto Masalah 55 ayat (1) KUHP.